
Di banyak negara dan ranah digital modern, media online telah menjadi hal baru penyebaran ideologi ekstrem yang lebih adaptif dan tersembunyi daripada sebelumnya.
Dalam dunia Internasional operasi Europol bersama negara-negara Eropa menghapus ribuan tautan konten ekstrem dan radikal yang dibagikan lewat gaming dan platform terkait, termasuk narasi jihadist, ekstrem sayap kanan, serta konten rasis/xenofobia yang menyasar pengguna muda di ruang game dan live gaming feeds.
“Platform terkait game lainnya yang ditujukan untuk streaming permainan disalahgunakan untuk merekrut anak di bawah umur ke dalam berbagai kelompok ekstremis dan teroris yang melakukan kekerasan atau untuk menyiarkan langsung serangan nyata dan bahkan bunuh diri,” Kata Europol pada 18 November 2025
Game Online Sebagai Gerbang Radikalisasi Anak
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sedikitnya belasan anak di Indonesia telah menjadi sasaran awal perekrutan ideologi ekstrem melalui game online, sebelum percakapan berpindah ke platform komunikasi tertutup.
Data Anak Indonesia Teridentifikasi Kelompok Radikal Lewat Game Online
| Tahun | Jumlah |
| 2011-2017 | 17 Anak |
| 2025 | 110 Anak (10-18 tahun) |
Contoh Tindakan Waspada Radikalisasi di Indonesia

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bekerja sama dengan Densus 88 Antiteror Polri untuk memperkuat upaya pencegahan masuknya paham intoleransi, radikalisme, dan terorisme di kalangan anak-anak dan remaja.Kampung Pancasila dan Pendekatan ‘Dari Anak ke Anak’ Untuk memperkuat ketahanan sosial dari akar rumput, Pemkot Surabaya mengoptimalkan peran Kampung Pancasila sebagai ruang edukasi masyarakat melalui pilar sosial budaya dan masyarakat.
